Moh. Zidan Awaludin

Sajak-sajak dalam hening,
bagai ledakan nestapa berkeping-keping,
bagai rumput yang mengering,
bagai daun yang menguning,
Pada sepi Aku renungi hati,
di jendela yang terbuka,
Aku bisu, hanya irama-irama hampa yang bergeming di telinga,
saat itu, Aku merasa mati,
Sajak-sajak dalam hening,
bagai sukma yang bergeming,
suara angin yang syahdu,
bagai seluring,
bintang kecil yang lucu ku lihat sering,
bagai mungilnya anting,
Pada pintu gerbang yang terbuka lebar,
Aku bergumam menjelma tanya,
pada siapa ia menyambut tuan raja,
mengapa gerbang itu melempar batu perasa,
perlukah ku mengejarnya?
Sajak-sajak dalam hening,
tercipta karena lautan lara yang mengendap,
karena lautan pengandaian yang terombang-ambing,
Jas hitam ku kenakan,
dan tinta hitam ku gerakan,
sepi ku silahkan,
dan sajak-sajak terciptakan,
Gerbang itu menjelma sajak,
bagai gunung yang terjal, menjelma sajak ketakutan,
bagai api yang panas, menjelma sajak kesakitan,
dan gerbangmu yang gelap di selimuti kabut abu-abu, menjelma rasa bingung.
Sajak-sajak dalam hening,
di balik jendela lantai lima,
pengandaianku terbang ke angkasa,
berharap mengetuk pintu pengabulan doa,
Aku dan sepi masih saja bergandengan,
meskipun mencipta lara,
dan menjelma sajak-sajak dalam hening.
Moh. Zidan Awaludin merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Angkatan 2024) yang berfokus pada penulisan puisi dan cerpen. Salah satu prestasinya adalah penerbitan puisi dalam Antologi “Memendam Rasa” (CV EMN Media). Tak hanya menulis, Zidan juga aktif di panggung; ia sering tampil dramatisasi puisi. Pencapaiannya meliputi menjadi Penanggung Jawab Pameran “Pekan Apresiasi Sastra dan Drama” ke-10 dan tampil teatrikal puisi atas undangan khusus dari Greenpeace bersama komunitas Sastra Akustik PBSI.
Leave a Reply